Jumat, 29 Oktober 2010

MEMPELAJARI AL-QUR'AN

Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al Qamar ayat 17:

Dan sesungguhnya telah Aku mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?

Hampir seluruh umat Islam maklum akan definisi dari kitab suci Al-Qur’an. Para ulama dari berbagai golongan telah mengemukakan bermacam-macam definisi Al-Qur’an. Karena sudah banyaknya ilmu pengetahuan tentang ini, maka bukan tempatnya pada buku ini untuk mengemukakan lagi apa itu Al-Qur’an.
Tetapi dalam rangka menuju ke arah pemahaman Al-Qur’an yang akan dibahas dalam buku ini, perlu dikemukakan beberapa kunci yang menjadi dasar pemahaman isi Al-Qur’an.

Kunci Mencapai Hikmah Al-Qur’an

Jika diibaratkan kita akan bertolak menuju ke suatu tempat, kita harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan lengkap. Baik kendaraannya, bekalnya, cara perginya, arah yang akan ditempuh dan seluruh penunjang bagi keselamatan kita di perjalanan agar selamat sampai di tujuan.

Begitu pula dalam mempelajari dan memahami Al-Qur’an sehingga dapat mencapai hikmahnya, kita harus mempersiapkan apa yang diperlukan, baik cara maupun sistem pembelajaran sehingga kita bisa sampai di tujuan dan terutama memetik manfaat yang tersurat di dalamnya.

Salah satu persiapan yang harus dilaksanakan adalah penentuan ‘titik pemberangkatan’ dari mana kita memulai pemahaman ini. Artinya “starting point” atau titik-tolak keberangkatan yang harus diambil. Karena jika keliru dalam memilih titik-tolak ini maka akibatnya akan mempengaruhi kelancaran perjalanan kita kelak. Tetapi bila dengan tepat menentukan titik pemberangkatan, yang memang sesungguhnya sudah diberikan oleh Al-Qur’an itu sendiri, maka insya Allah kita akan diberi kemudahan dalam menelusuri perjalanan pembelajaran pemahaman dan mencapai hikmah dari Al-Qur’an ini.

Sebagaimana telah difirmankan oleh Allah SWT. dalam surat Al Baqarah ayat 269, yang berbunyi demikian:

Allah menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunah) kepada siapa yang di kehendaki-Nya. Dan barang siapa yang dianugerahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.

Jelas, dengan demikian tidak ada keraguan bagi kita semua kaum Muslimin untuk mempelajari Al-Qur’an ini, karena Allah sudah “menjamin” akan menganugerahkan al-hikmah kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Kuncinya, kita harus dapat mencapai kriteria “siapa yang Allah kehendaki”. Artinya menjadi seseorang yang dikehendaki Allah untuk menerima al hikmah tadi.

Dalam uraian yang akan dipaparkan dalam buku ini, pembaca tidak akan dibekali dengan bagaimana cara membaca Al-Qur’an yang baik, atau bagaimana cara melafadzkan yang benar. Penulis hanya ingin mencoba menyampaikan bagaimana caranya untuk memahami kandungan Al-Qur’an secara sistematik yang bertolak dari salah satu titik-tolak yang tepat dan menulusurinya sesuai dengan petunjuk dari Al-Qur’an itu sendiri menurut pengalaman dan pemahaman penulis.

Oleh karena itu setiap insan yang mengikuti metoda ini harus memiliki Al-Qur’an dan terjemahannya. Karena untuk mengerti apa yang dikandung di dalamnya, Bagi sebagian orang awam dan tidak memahami kaidah Bahasa (Arab) Al-Qur’an hanya dapat ditolong oleh terjemahannya saja. Karena memang, uraian ini hanya bagi mereka yang tidak memahami bahasa Arab Al Qur;an tapi mempunyai niat untuk memahami kandungan Al-Qur’an. Ternyata kalau memang kita mempunyai niat untuk mempelajari serta memahaminya, berkeyakinan akan keberhasilan insya-Allah Allah akan memudahkan dalam melakukannya, sebagaimana difirmankan Allah dalam Al-Qur’an surat Al Qamar ayat 17 yang berbunyi:

Dan sesungguhnya telah Aku mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?

Kuncinya adalah: “maka adakah orang yang mengambil pelajaran? “Pertanyaan ini tidak mungkin dikemukakan jika semua Muslim mengambil pelajaran. Justru karena kebanyakan dari kita tidak mempelajarinya maka ada “jaminan kemudahan” dari Allah SWT. bagi mereka yang mengambil pelajaran, serta mereka yang enggan atau tidak mau memulai mempelajari Al-Qur’an, bahwa “sesungguhnya telah Aku mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran”. Demikian firman Allah.

Karena itu yakinilah dalam hati, bahwa mempelajari Al-Qur’an itu mudah dan dengan kemudahan ini kita akan terus tekun dan istiqamah untuk melakukannya. Tidak usah ada keraguan karena sebagaimana Firman Allah di atas bahwa Allah menganugerahkan al hikmah yaitu kefahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dengan adanya “jaminan” dari Allah, yakinilah bahwa kita ini akan termasuk golongan yang “Allah kehendaki” untuk dianugerahi al-hikmah tadi.
Qu’ran Sebagai Petunjuk.

Di atas telah dikemukakan, bahwa dalam menentukan titik-tolak pemberangkatan dalam mempelajari Al-Qur’an kita kembalikan kepada Al-Qur’an. Karena hanya Allah melalui Al-Qur’an itu sendiri yang akan memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus dalam segala hal, tentu saja termasuk dalam mempelajari Al-Qur’an.

Firman Allah:

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (Q.S. Al Qaşaş, 28: 56)

Tetapi kebanyakan manusia tidak peduli akan petunjuk itu, artinya tidak kembali kepada Al-Qur’an tetapi justru meminta petunjuk kepada manusia itu sendiri, bukan kepada Allah atau kepada Al-Qur’an yang penuh dengan petunjuk-petunjuk dari Allah SWT. Simaklah Firman Allah berikut ini:

Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Q.S. An Naml, 27: 77)

Dengan adanya firman di atas, apakah kita masih ragu-ragu untuk memohon petunjuk dari Al-Qur’an? Ataukah kita masih akan meminta petunjuk kepada selain Allah atau Al-Qur’an?

Katakanlah: "Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudaratan kepada kita dan (apakah) kita akan dikembalikan ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh setan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): "Marilah ikuti kami". Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Rabb semesta alam, (Q.S.Al An’am, 6: 71)

Dengan demikian marilah kita teguhkan hati kita, yakin akan petunjuk dan pertolongan Allah bahwa mempelajari Al-Qur’an itu mudah, Allah akan memberi petunjuk dan Allah akan memberikan anugerah al-hikmah kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Insya Allah dengan keyakinan yang bulat kita menjadi salah seorang yang dikehendaki Allah untuk menerima anugerah tadi. Karena sebagaimana Firman Allah :

Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. (Q.S. Al A’rāf, 7 :30)


Salah SAtu Titik Tolak Untuk Mencapai Hikmah Al-Qur’an

Maka dari manakah titik-tolak untuk memulainya sehingga kita benar-berar dapat menelusuri jalan pembelajaran dan pemahaman yang dimaksud itu dengan baik dan lancar? Banyak tempat dapat digunakan, tetapi apakah titik-titik tolak itu tepat untuk maksud kita?

Menurut apa yang penulis dapati, bahwa salah satu titik-tolak untuk memulai perjalanan pembelajaran Al AiQur’an adalah dari Surat Ali Imran ayat ke 190 sampai ayat ke 195, yang berbunyi demikian:

[190] Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir,
[191] (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Rabb kami, tiadalah Yang Mulia menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Allah, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
[192] Ya Rabb kami, sesungguhnya barang siapa yang Maha Mulia masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Maha Mulia hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang dzalim seorang penolongpun.
193] Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Rabb-mu" , maka kami pun beriman. Ya Rabb kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.
[194] Ya Rabb kami, berilah kami apa yang telah Maha Mulia janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul. Dan janganlah Yang Maha Mulia hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Yang Maha Mulia tidak menyalahi janji."
[195] Maka Rabb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik."

Dari keenam ayat di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa kita mempunyai enam titik-tolak atau enam kunci yang ditunjuki oleh Allah ( dalam Al-Qur’an) untuk memulai perjalanan kita dengan adanya kata-kata kunci sebagai pentunjuk itu, yaitu:

1. BERPIKIR (ayat 190)
2. IBADAH (ayat 191)
3. DZALIM (ayat 192)
4. IMAN ( ayat 193)
5. MEMOHON HANYA KEPADA ALLAH (“berilah kami…..”, ayat 194)
6. AMAL (ayat 195)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar