Jumat, 29 Oktober 2010

HIKMAH DI TURUNKAN AL-QUR'AN SECARA BERANGSUR-ANGSUR

HIKMAH DITURUNKANNYA AL-QUR’AN SECARA BERANGSUR-ANGSUR

Oleh: Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
Al-Qur’an tidak diturunkan kepada Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam sekaligus satu kitab. Tetapi secara berangsur-angsur, surat-persurat, ayat-perayat menurut tuntutan peristiwa yang melatarinya. Lantas apa hikmahnya? Hikmah atau tujuannya ialah:
1. Untuk menguatkan hati Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam . Firman-Nya:
“Orang-orang kafir berkata, kenapa Qur’an tidak turun kepadanya sekali turun saja? Begitulah, supaya kami kuatkan hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).” (Al-Furqaan: 32)

Kata Abu Syamah, ayat itu menerangkan bahwa Allah memang sengaja menurunkan Qur’an secara berangsur-angsur. Tidak sekali turun langsung berbentuk kitab seperti kitab-kitab yang diturunkan kepada rasul sebelumnya, tidak. Lantas apa rahasia dan tujuannya? Tujuannya ialah untuk meneguhkan hati Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam . Sebab dengan turunnya wahyu secara bertahap menurut peristiwa, kondisi, dan situasi yang mengiringinya, tentu hal itu lebih sangat kuat menancap dan sangat terkesan di hati sang penerima wahyu tersebut, yakni Muhammad. Dengan begitu turunnya melaikat kepada beliau juga lebih intens (sering), yang tentunya akan membawa dampak psikologis kepada beliau; terbaharui semangatnya dalam mengemban risalah dari sisi Allah. Beliau tentunya juga sangat bergembira yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Karena itu saat-saat yang paling baik di bulan Ramadhan, ialah seringnya perjumpaan beliau dengan Jibril.
2.Untuk menantang orang-orang kafir yang mengingkari Qur’an karena menurut mereka aneh kalau kitab suci diturunkan secara berangsur-angsur. Dengan begitu Allah menantang mereka untuk membuat satu surat saja yang (tak perlu melebihi) sebanding dengannya. Dan ternyata mereka tidak sanggup membuat satu surat saja yang seperti Qur’an, apalagi membuat langsung satu kitab.
3.Supaya mudah dihapal dan dipahami. Memang, dengan turunnya Qur’an secara berangsur-angsur, sangatlah mudah bagi manusia untuk menghafal serta memahami maknanya. Lebih-lebih bagi orang-orang yang buta huruf seperti orang-orang arab pada saat itu; Qur’an turun secara berangsur-angsur tentu sangat menolong mereka dalam menghafal serta memahami ayat-ayatnya. Memang, ayat-ayat Qur’an begitu turun oleh para sahabat langsung dihafalkan dengan baik, dipahami maknanya, lantas dipraktekkan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Itulah sebabnya Umar bin Khattab pernah berkata:
“Pelajarilah Al-Qur’an lima ayat-lima ayat. Karena Jibril biasa turun membawa Qur’an kepada Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam lima ayat-lima ayat.” (HR. Baihaqi)
4.Supaya orang-orang mukmin antusias dalam menerima Qur’an dan giat mengamalkannya. Dengan begitu kaum muslimin waktu itu memang senantiasa menginginkan serta merindukan turunnya ayat-ayat Qur’an. Apalagi pada saat memerlukannya karena ada peristiwa yang sangat menuntut penyelesaian wahyu; seperti ayat-ayat mengenai kabar bohong yang disebarkan oleh kaum munafik untuk memfitnah bunda Aisyah, dan ayat-ayat tentang li’an.
5.Mengiringi kejadian-kejadian di masyarakat dan bertahap dalam menetapkan suatu hukum. Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur; yakni dimulai dari maslaah-masalah yang sangat penting kemudian menyusul masalah-masalah yang penting. Nah, karena masalah yang sangat pokok dalam Islam adalah masalah Iman, maka pertama kali yang dipriorotaskan oleh Al-Qur’an ialah tentang keimanan kepada Allah, malaikat, iman kepada kitab-kitbnya, para rasulnya, iman kepdaa hari akhir, kebangkitan dari kubur, dan surga neraka. Hal itu didukung dengan dalil-dalil yang rasional yang tujuan untuk mencabut kepercayaan-kepercayaan jahiliyah yang berpuluh-puluh tahun telah menancap di hati orang-orang musyrik untuk ditanami/diganti dengan benih-benih akidah Islamiyah.
Setelah akidah Islamiya itu tumbuh dan mengakar di hati, baru Allah menurunkan ayat-ayat yang memerintah berakhlak yang baik dan mencegah perbuatan keji dan mungkar untuk membasmi kejahatan serta kerusakan sampai ke akarnya. Juga ayat-ayat yang menerangkan halal haram pada makanan, minuman, harta benda, kehormatan, darah/pembunuh dan sebagainya. Begitulah Qur’an diturunkan sesuai dengan kejadian-kejadian yang mengiringi perjalanan jihad panjang kaum muslimin dalam memperjuangkan agama Allah di muka bumi. Dan ayat-ayat itu tak henti-henti memotivasi mereka dalam perjuangan ini. Mari kita simak contoh-contoh di bawah ini:
1. Surat Al An’am adalah surat makiyah karena turun di Mekah. Isinya menjelaskan perkara iman, akidah tauhid, bahaya syirik, dan menerangkan apa yang halal dan haram, firman:
“Katakanlah: “Marilah saya bacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu menyekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu, dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kami yang akan memberi rizki kamu dan mereka.” (Al An’am:152)
Kemudian, ayat-ayat yang menerangkan hukum-hukum secara rinci, baru menyusul turun di Madinah; seperti tentang utang piutang dan pengharaman riba. Juga tentang zina, itu diharamkan di Mekkah, yaitu ayat:
“Jangan kau mendekati zina. Karena sesungguhnya zina satu perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan.” (Al Isra:32)
Tapi, ayat-ayat yang merinci hukuman bagi orang yang melakukan zina turun di Madinah kemudian.
2. Tentang undang-undang pengharaman khamer, yang pertama kali turun ialah ayat:
“Dan dari buah kurma serta anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik …” (An-Nahl:67)
Kemudian yang turun berikutnya ialah ayat:
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamer dan judi. Katakanlah bahwa pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosanya lebih besar dari pada manfaatnya.” (Al-Baqarah:219)
Di dalam ayat itu dikatakan bahwa khamer itu mengandung manfaat yang temporal sifatnya, dan bahayanya lebih besar bagi tubuh, bisa merusak akal, pemborosan harta benda, dan bisa menimbulkan berbagai macam masalah kejahatan serta kemaksiatan di masyarakat. Setelah itu turun ayat yang melarang mabuk ketika shalat.
“Hai orang-ornag yang beriman, janganlah kalian shalat ketika kalian dalam keadaan mabuk sampai kalian mengerti apa yang kalian ucapkan.” (An-Nisaa’:43)
Setelah mereka tahu dan menyadari bahwa mabuk saat shalat diharamkan, kemudian turun ayat yang lebih tegas lagi:
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (minum) khamer, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Oleh kraena itu, jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al Maidah:90)
Untuk lebih menjelaskan lagi bahwa turunnya Qur’an secara berangsur-angsur, ialah apa yang dikatakan Bunda Aisyah berikut:
“Sesungguhnya yang pertama kali turun ialah surat dari surat-surat mufashal yang di dalamnya disebutkan perihal surga dan neraka, sehingga jika manusia telah kembali/masuk Islam, maka turunlah surat yang menyebutkan tentang halal haram. Nah, sekiranya yang mula-mula turun ialah ayat yang berbunyai: janganlah kamu minum khamer, pasti mereka berkata: kami tidak akan meninggalkan kebiasaan minum khamer selama-lamanya. Dan seandainya yang turun itu ayat yang berbunyi: jangan berzina, niscaya mereka menjawab: kami tidak akan meninggalkan kebiasaan berzina selama-lamanya.” (HR.Bukhari)
((Sumber: “Pemahaman Al Qur’an”, Syaikh Muhammad Ibnu Jamil Zainu. Penerbit: Gema Risalah Press, Bandung; Cet. Pertama: September 1997, hal.47-51))

MEMPELAJARI AL-QUR'AN

Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al Qamar ayat 17:

Dan sesungguhnya telah Aku mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?

Hampir seluruh umat Islam maklum akan definisi dari kitab suci Al-Qur’an. Para ulama dari berbagai golongan telah mengemukakan bermacam-macam definisi Al-Qur’an. Karena sudah banyaknya ilmu pengetahuan tentang ini, maka bukan tempatnya pada buku ini untuk mengemukakan lagi apa itu Al-Qur’an.
Tetapi dalam rangka menuju ke arah pemahaman Al-Qur’an yang akan dibahas dalam buku ini, perlu dikemukakan beberapa kunci yang menjadi dasar pemahaman isi Al-Qur’an.

Kunci Mencapai Hikmah Al-Qur’an

Jika diibaratkan kita akan bertolak menuju ke suatu tempat, kita harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan lengkap. Baik kendaraannya, bekalnya, cara perginya, arah yang akan ditempuh dan seluruh penunjang bagi keselamatan kita di perjalanan agar selamat sampai di tujuan.

Begitu pula dalam mempelajari dan memahami Al-Qur’an sehingga dapat mencapai hikmahnya, kita harus mempersiapkan apa yang diperlukan, baik cara maupun sistem pembelajaran sehingga kita bisa sampai di tujuan dan terutama memetik manfaat yang tersurat di dalamnya.

Salah satu persiapan yang harus dilaksanakan adalah penentuan ‘titik pemberangkatan’ dari mana kita memulai pemahaman ini. Artinya “starting point” atau titik-tolak keberangkatan yang harus diambil. Karena jika keliru dalam memilih titik-tolak ini maka akibatnya akan mempengaruhi kelancaran perjalanan kita kelak. Tetapi bila dengan tepat menentukan titik pemberangkatan, yang memang sesungguhnya sudah diberikan oleh Al-Qur’an itu sendiri, maka insya Allah kita akan diberi kemudahan dalam menelusuri perjalanan pembelajaran pemahaman dan mencapai hikmah dari Al-Qur’an ini.

Sebagaimana telah difirmankan oleh Allah SWT. dalam surat Al Baqarah ayat 269, yang berbunyi demikian:

Allah menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunah) kepada siapa yang di kehendaki-Nya. Dan barang siapa yang dianugerahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.

Jelas, dengan demikian tidak ada keraguan bagi kita semua kaum Muslimin untuk mempelajari Al-Qur’an ini, karena Allah sudah “menjamin” akan menganugerahkan al-hikmah kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Kuncinya, kita harus dapat mencapai kriteria “siapa yang Allah kehendaki”. Artinya menjadi seseorang yang dikehendaki Allah untuk menerima al hikmah tadi.

Dalam uraian yang akan dipaparkan dalam buku ini, pembaca tidak akan dibekali dengan bagaimana cara membaca Al-Qur’an yang baik, atau bagaimana cara melafadzkan yang benar. Penulis hanya ingin mencoba menyampaikan bagaimana caranya untuk memahami kandungan Al-Qur’an secara sistematik yang bertolak dari salah satu titik-tolak yang tepat dan menulusurinya sesuai dengan petunjuk dari Al-Qur’an itu sendiri menurut pengalaman dan pemahaman penulis.

Oleh karena itu setiap insan yang mengikuti metoda ini harus memiliki Al-Qur’an dan terjemahannya. Karena untuk mengerti apa yang dikandung di dalamnya, Bagi sebagian orang awam dan tidak memahami kaidah Bahasa (Arab) Al-Qur’an hanya dapat ditolong oleh terjemahannya saja. Karena memang, uraian ini hanya bagi mereka yang tidak memahami bahasa Arab Al Qur;an tapi mempunyai niat untuk memahami kandungan Al-Qur’an. Ternyata kalau memang kita mempunyai niat untuk mempelajari serta memahaminya, berkeyakinan akan keberhasilan insya-Allah Allah akan memudahkan dalam melakukannya, sebagaimana difirmankan Allah dalam Al-Qur’an surat Al Qamar ayat 17 yang berbunyi:

Dan sesungguhnya telah Aku mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?

Kuncinya adalah: “maka adakah orang yang mengambil pelajaran? “Pertanyaan ini tidak mungkin dikemukakan jika semua Muslim mengambil pelajaran. Justru karena kebanyakan dari kita tidak mempelajarinya maka ada “jaminan kemudahan” dari Allah SWT. bagi mereka yang mengambil pelajaran, serta mereka yang enggan atau tidak mau memulai mempelajari Al-Qur’an, bahwa “sesungguhnya telah Aku mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran”. Demikian firman Allah.

Karena itu yakinilah dalam hati, bahwa mempelajari Al-Qur’an itu mudah dan dengan kemudahan ini kita akan terus tekun dan istiqamah untuk melakukannya. Tidak usah ada keraguan karena sebagaimana Firman Allah di atas bahwa Allah menganugerahkan al hikmah yaitu kefahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dengan adanya “jaminan” dari Allah, yakinilah bahwa kita ini akan termasuk golongan yang “Allah kehendaki” untuk dianugerahi al-hikmah tadi.
Qu’ran Sebagai Petunjuk.

Di atas telah dikemukakan, bahwa dalam menentukan titik-tolak pemberangkatan dalam mempelajari Al-Qur’an kita kembalikan kepada Al-Qur’an. Karena hanya Allah melalui Al-Qur’an itu sendiri yang akan memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus dalam segala hal, tentu saja termasuk dalam mempelajari Al-Qur’an.

Firman Allah:

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (Q.S. Al Qaşaş, 28: 56)

Tetapi kebanyakan manusia tidak peduli akan petunjuk itu, artinya tidak kembali kepada Al-Qur’an tetapi justru meminta petunjuk kepada manusia itu sendiri, bukan kepada Allah atau kepada Al-Qur’an yang penuh dengan petunjuk-petunjuk dari Allah SWT. Simaklah Firman Allah berikut ini:

Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Q.S. An Naml, 27: 77)

Dengan adanya firman di atas, apakah kita masih ragu-ragu untuk memohon petunjuk dari Al-Qur’an? Ataukah kita masih akan meminta petunjuk kepada selain Allah atau Al-Qur’an?

Katakanlah: "Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudaratan kepada kita dan (apakah) kita akan dikembalikan ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh setan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): "Marilah ikuti kami". Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Rabb semesta alam, (Q.S.Al An’am, 6: 71)

Dengan demikian marilah kita teguhkan hati kita, yakin akan petunjuk dan pertolongan Allah bahwa mempelajari Al-Qur’an itu mudah, Allah akan memberi petunjuk dan Allah akan memberikan anugerah al-hikmah kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Insya Allah dengan keyakinan yang bulat kita menjadi salah seorang yang dikehendaki Allah untuk menerima anugerah tadi. Karena sebagaimana Firman Allah :

Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. (Q.S. Al A’rāf, 7 :30)


Salah SAtu Titik Tolak Untuk Mencapai Hikmah Al-Qur’an

Maka dari manakah titik-tolak untuk memulainya sehingga kita benar-berar dapat menelusuri jalan pembelajaran dan pemahaman yang dimaksud itu dengan baik dan lancar? Banyak tempat dapat digunakan, tetapi apakah titik-titik tolak itu tepat untuk maksud kita?

Menurut apa yang penulis dapati, bahwa salah satu titik-tolak untuk memulai perjalanan pembelajaran Al AiQur’an adalah dari Surat Ali Imran ayat ke 190 sampai ayat ke 195, yang berbunyi demikian:

[190] Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir,
[191] (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Rabb kami, tiadalah Yang Mulia menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Allah, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
[192] Ya Rabb kami, sesungguhnya barang siapa yang Maha Mulia masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Maha Mulia hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang dzalim seorang penolongpun.
193] Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Rabb-mu" , maka kami pun beriman. Ya Rabb kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.
[194] Ya Rabb kami, berilah kami apa yang telah Maha Mulia janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul. Dan janganlah Yang Maha Mulia hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Yang Maha Mulia tidak menyalahi janji."
[195] Maka Rabb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik."

Dari keenam ayat di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa kita mempunyai enam titik-tolak atau enam kunci yang ditunjuki oleh Allah ( dalam Al-Qur’an) untuk memulai perjalanan kita dengan adanya kata-kata kunci sebagai pentunjuk itu, yaitu:

1. BERPIKIR (ayat 190)
2. IBADAH (ayat 191)
3. DZALIM (ayat 192)
4. IMAN ( ayat 193)
5. MEMOHON HANYA KEPADA ALLAH (“berilah kami…..”, ayat 194)
6. AMAL (ayat 195)

Kamis, 28 Oktober 2010

Panduan Mengkhusyukkan Sembahyang

Posted by: hua3x on: 24/10/2009
Panduan Mengkhusyukkan Sembahyang
www.iluvislam.com
Kiriman: abraxas248*
Editor : b_b
Panduan Mengkhusyukkan Sembahyang


  1. Memakai pakaian yang bersih dan suci lagi kemas serta bau-bauan yang diharuskan dan sentiasa sembahyang di awal waktu kecuali jika ada sesuatu majlis atau keuzuran
  2. Tidak memandang ke kiri atau ke kanan sebaliknya terus memandang ke tempat sujud
  3. Menyemaikan di dalam hati perasaan takut dan rendah diri terhadap Allah yang Maha Melihat setiap gerak-geri kita
  4. Menumpukkan pandangan ke tempat sujud dan tidak banyak menggerakkan anggota badan dalam sembahyang
  5. Membanyakkan sedekah terutamanya kepada golongan fakir miskin
  6. Memastikan tidak ada gangguan di dalam kawasan atau persekitaran sembahyang
  7. Cuba memahami segala isi bacaan dalam sembahyang termasuk ayat Al Quran, zikir dan tasbih
  8. Mengambil wuduk dengan sempurna supaya air merata pada semua bahagian anggota yang wajib dan membaca doa apabila air melalui di tiap-tiap anggota tersebut
  9. Membaca surah An-Nas, selawat ke atas Rasulullah SAW, istighfar dan apa-apa bacaan untuk menjauhkan gangguan syaitan sebelum takbir
  10. Tidak menahan diri dari membuang air kecil atau air besar sebelum sembahyang sebaliknya hendaklah ditunaikan hajat itu
  11. Menjaga makan dan minum dan memastikan sumbernya dari yang bersih lagi halal serta menjauhi makanan yang haram dan syubahat
  12. Memastikan di bahagian hadapan tempat sujud tidak ada gambar yang boleh menarik pandangan yang menyebabkan fikiran dan hati terganggu
  13. Banyak mengingati mati dan menganggap sembahyang yang dilakukan itu adalah sembahyang yang terakhir dalam hidupnya
  14. Menyedari hakikat yang ianya sedang berhadapan dengan Allah yang Maha Agung dan Maha Mengetahui akan segala rahsia hambanya
  15. Memusatkan seluruh ingatan dan tumpuan pada sembahyang serta melambatkan bacaan tasbih

Surga cinta

                                   " SURGA MERINDUKAN 4 ORANG "

1 : Orang yang membaca Al-Qur'an .

2 : Orang yang menjaga lisannya.

3 : Orang yang mau memberi orang lapar( Shodaqoh ).

4 :Orang yang mau berpuasa .

                                    ( Sumber : DurrotunNasikhin )

Rabu, 27 Oktober 2010

Dakwah Islam

Allah berfirman yang bermaksud:
"Siapakah yang terlebih baik perkataannya daripada orang yang Menyeru
kepada Allah dan beramal soleh seraya berkata:"Sesungguhnya saya salah
seorang Muslim." (Fussshilat ayat 33)
Perkataan ataupun ucapan menyeru manusia ke jalan Allah adalah suatu amalan yang terbaik dan mulia. Tugas suci ini telah dilaksanakan oleh Rasul-Rasul Allah semenjak mula manusia diciptakan, yang telah ditunaikan oleh ramai utusan Allah S.W.T. antara lain Adam a.s., Noah a.s, Hud a.s, Ibrahim a.s (Abraham), Ismail a.s, .Ishak a.s.(Isaac), Ya'qub a.s.(Yacob), Yusuf a.s.(Joseph), Musa a.s(Moses), Daud a.s.(David), Sulaiman a.s.(Solomon), Isa a.s. (Jesus) dan hingga ke akhir Rasulullah Muhammad s.a.w. Semua mereka menyeru ke jalan Allah, jalan yang benar dan melarang manusia dari perbuatan yang keji dan jahat.
Semua utusan Allah itu telah melaksanakan tugas mereka dengan baik dengan tidak mengharapkan apa-apa upah, malah mereka telah mengorbankan harta benda malah ramai pula diantara mereka yang dikejaar-kejar dan ingin dibunuh, seperti apa yang telah dialami oleh Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s. dan juga apa yang telah dialami oleh Nabi Muhammad s.a.w.
Rasulullah s.a.w.mengajak manusia ke jalan Allah dengan lemah lembut dan kasih sayang sesuai dengan Firman Allah yang maksudnya:
"Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah (kebijaksanaan) dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dijalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk."(Annahl:125) Usaha menyeru manusia ke jalan Allah bukanlah pekerjaan yang mudah, ia memerlukan pengorbanan segalanya, baik tenaga, harta benda jika diperlukan nyawa sekalipun. Usaha yang mulia ini akan berhadapan dengan banyak halangan dan rintangan yang datangnya dari berbagai penjuru. Jika kita tabah menghadapinya Insya-Allah usaha Dakwah kita akan berjaya.. Sejak Adam a.s. hingga hari kiamat syaitan bekerja keras untuk menyesatkan Adam a.s. dan anak cucunya. Bila syaitan menjelma menjadi manusia, maka syaitan manusia ini akan berusaha keras untuk menghalang segala pekerjaan yang baik, terutama sekali Dakwah ke jalan Allah, menyeru kepada yang baik dan melarang daripada yang mungkar. Mereka akan bekerjasama menghalang Dakwah dengan berbagai cara dan daripada  mereka ini kita tidak dapat mengharapkan apa-apa pertolongan. Kita perlu berusaha sendiri. Insya Allah dengan usaha yang tidak mengenal putus asa dan dengan pertolongan Allah Nabi s.a.w.telah mencapai kejayaan.
Kita teringat betapa susahnya Nabi berdakwah dalam menyampaikan seruan Allah. Nabi s.a.w. dihina, difitnah, dituduh orang gila, dikejar-kejar malah mau dibunuh. Baginda pergi ke Taif untuk menyampaikan Dakwahnya. Di sana beliau telah disambut dengan cercaan dan makian. Malah mereka menyuruh budak kecil melempari Nabi s.a.w. dengan batu kayu dan sebagainya, sehingga tubuhnya penuh dengan luka dan kakinya berdarah. Dalam keadaan seperti itu Rasulallah s.a.w. hanya berdo'a:
"Ya Allah tunjukilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahuinya."
Kaum jahiliyah Quraisy terus sahaja berusaha untuk menghalang perjuangan Nabi s.a.w. Tidak cukup dengan cacian dan makian, melemparkan kotoran ke tubuh Baginda, meletakkan duri di depan rumah Baginda, malah Rasulallah s.a.w. dan kaumnya bani Hasyim dan bani Muthalib dipulaukan hingga hampir tiga tahun lamanya.
Mereka dibiarkan di sebuah lembah yang kering kontang, dan tidak dibenarkan siapapun untuk memberikan apa-apa pertolongan.Tidak cukup dengan berbagai penganiaayaan dan kezaliman malah mereka telah membuat pakatan untuk membunuh Nabi s.a.w. Akhirnya Rasulallah s.a.w. diperintahkan Hijrah ke Yathrib (Madinah).
Di Madinah Dakwah Nabi s.a.w.mendapat sambutan diluar dugaan. Di Madinah Nabi s.a.w. disamping mendirikan masjid Rasulullah s.a.w., telah mempersaudarakan  kaum Muslimin yang datang dari Makkah (Muhajirin) dengan kaum Muslimin di Madinah (Ansor). Disamping itu Nabi telah berjaya menyatupadukan semua pendudukan Madinah yang terdiri daripada  berbilang kaum dan agama, dengan membuat perjajian yang terkenal dengan Piagam Madinah.
Alhamdulillah berkat usaha yang gigih dan tak pernah mengenal putus asa yang berlandaskan niat yang ikhlas menyeru manusia kejalan Allah, jalan yang menyelamatkan manusia daripada  kesesatan dan kehancuran, akhirnya Nabi sa.w, dengan pertolongan Allah s.w.t. dan bantuan daripada semua sahabat yang setia dalam perjuangan Rasulullah s.a.w. telah memperoleh kejayaan. Kemudian usaha yang mulia dan suci ini telah dilanjutkan oleh para alim-ulama dan cerdik pandai Islam lainnya. Dengan  bantuan daripada semua pihak terutama daripada para hartawan dan dermawan, akhirnya usaha yang mulia ini telah mendapat pengikut sehingga seperlima daripada penduduk dunia.
Tanggung jawab menyeru ke jalan Allah adalah menjadi tanggung jawab semua pihak, mereka yang tak boleh berdakwah dengan lisan, boleh berdakwah dengan harta benda. Ataupun sekurangg-kurangnya berdakwah dengan contoh teladan yang baik, semoga dengan demikian Insya-Allah usaha yang mulia ini diberkati dan akan memperoleh kejayaan.